Dari Api Unggun Menuju Pertobatan: Camping Rohani OMK dan PIR Lingkungan St. Paulus Temanggal II Menjadi Ruang Aman Kaum Muda Menemukan Harapan
Gereja St. Ignatius Loyola
Pukul 12:04 WIB
Pukul 12:04 WIB
Temanggal, 28 Juni 2026 – Semangat persaudaraan dan pertumbuhan iman begitu terasa dalam kegiatan Camping Rohani PIR dan Orang Muda Katolik (OMK) Lingkungan St. Paulus Temanggal II yang diselenggarakan pada 27–28 Juni 2026 di Teras Merapi, Cangkringan. Kegiatan yang difasilitasi oleh Pengurus Lingkungan St. Paulus Temanggal II ini menjadi salah satu program unggulan lingkungan dalam upaya menggerakkan kaum muda agar semakin terlibat aktif dalam kehidupan menggereja serta bertumbuh menjadi pribadi yang semakin sesuai dengan kehendak Tuhan.
Camping rohani ini mendapat dukungan penuh dari Ketua Lingkungan St. Paulus Temanggal II, Bapak Engelbertus Wahyu Widiatmoko, yang sejak awal mendorong agar kegiatan pembinaan bagi generasi muda dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan.
"Kegiatan ini sebenarnya sudah direncanakan hampir dua tahun yang lalu, namun baru sekarang dapat direalisasikan. Saya bangga karena bisa turut mendengarkan secara langsung apa yang dirasakan oleh remaja dan kaum muda saat ini. Mereka adalah prioritas lingkungan sebagai bentuk kepedulian terhadap regenerasi Gereja ke depan. Melalui kegiatan seperti ini kita juga dapat menggali potensi anak-anak untuk mempersiapkan masa depan mereka," ungkapnya.
Malam Keakraban dan Refleksi Iman
Selama dua hari, peserta mengikuti berbagai kegiatan yang tidak hanya membangun kebersamaan, tetapi juga memperdalam kehidupan rohani. Malam pertama diawali dengan suasana penuh keakraban melalui bakar jagung, dilanjutkan dengan api unggun yang semakin menghangatkan kebersamaan seluruh peserta.

Puncak kegiatan malam itu adalah Refleksi Tiga Putaran yang diadaptasi dari metode Latihan Rohani Ignasian, sebuah metode refleksi yang mengajak peserta mengenali pengalaman hidup, menemukan karya Tuhan di dalamnya, dan merumuskan langkah hidup yang ingin diperjuangkan. Refleksi dilaksanakan dalam suasana yang tenang dan penuh kepercayaan sehingga setiap peserta memiliki ruang untuk berbicara dari hati ke hati.
Kegiatan refleksi dipandu oleh fasilitator Sang Condro Nugroho, yang mengungkapkan kekagumannya terhadap keterbukaan para peserta.
"Anak-anak sangat antusias dan berani membuka isi hati mereka. Banyak yang menceritakan pergumulannya tentang studi, pekerjaan, sekolah, bahkan persoalan keluarga. Beberapa dari mereka menangis ketika mengungkapkan beban yang selama ini dipendam. Mereka merasa tidak memiliki ruang untuk bercerita, bahkan kepada keluarga inti mereka sendiri. Ada pula yang menyampaikan keinginan untuk bertobat dan memulai hidup yang baru. Saya sungguh melihat bahwa mereka adalah pribadi-pribadi yang luar biasa dan hanya membutuhkan ruang yang aman untuk didengarkan," tuturnya.
Agar suasana tetap nyaman dan peserta dapat berbicara dengan bebas, sesi sharing tiga putaran dilakukan hanya bersama para remaja dan kaum muda. Meskipun beberapa orang tua dan pendamping turut hadir dalam kegiatan camping, fasilitator meminta mereka untuk menjaga jarak selama sesi berlangsung sehingga peserta tidak merasa sungkan dalam mengungkapkan isi hati.

Momen yang Mengharukan
Namun, terdapat momen yang begitu mengharukan. Seorang orang tua yang mendengarkan dari kejauhan menyampaikan rasa syukur setelah mendengar ungkapan hati anaknya.
"Saya baru benar-benar tahu apa yang selama ini dirasakan anak saya. Terima kasih karena kegiatan ini membuka hati kami sebagai orang tua untuk lebih mendengarkan mereka."
Kesaksian tersebut menjadi pengingat bahwa komunikasi dalam keluarga sering kali membutuhkan ruang dan cara yang berbeda agar setiap anggota keluarga berani saling membuka diri.
Setelah refleksi selesai, seluruh peserta menutup sesi dengan Doa Bapa Kami, kemudian melanjutkan Doa Examen Malam yang dipimpin oleh Prodiakon Lingkungan, Ibu Susana. Dalam suasana hening, peserta diajak mensyukuri pengalaman sepanjang hari sekaligus menyerahkan seluruh perjalanan hidup mereka kepada Tuhan.
Keesokan paginya, kegiatan dilanjutkan dengan jalan pagi menikmati udara sejuk kawasan Teras Merapi, sekaligus membangun keakraban melalui berbagai percakapan ringan. Rangkaian camping kemudian ditutup dengan foto bersama sebagai kenangan atas pengalaman iman yang berharga.

Melalui kegiatan ini, Lingkungan St. Paulus Temanggal II berharap semakin banyak remaja dan kaum muda yang menemukan bahwa Gereja adalah rumah yang menerima mereka apa adanya—tempat untuk bertumbuh, didengarkan, dan berjalan bersama dalam iman. Camping Rohani PIR dan OMK bukan sekadar kegiatan rekreasi, melainkan menjadi langkah nyata membangun generasi muda yang tangguh, peduli, dan siap menjadi pelayan Tuhan di masa depan.
Sebagaimana tema yang dihidupi selama kegiatan ini, seluruh peserta diajak untuk terus bersyukur, berbagi, dan bertumbuh, bersama Tuhan di tengah keindahan alam ciptaan-Nya.
Penulis: Sang Condro Nugroho